Sunday, 17 July 2016

Jejak Pemuda yang ‘Katanya’ Dirindukan (2)



Jakarta, UNJ – Rangkaian PKMUNJ 2 telah selesai dilaksanakan. Bertempat di Gedung FMIPA UNJ dalam waktu dua hari. Libur panjang kuliah yang disertai libur lebaran nyatanya tak menyulutkan semangat para permuda yang ‘katanya’ dirindukan bangsa.  Puluhan pemuda hadir untuk memenuhi komitmen dalam rangkaian PKMUNJ 2 2016. Meskipun, jumlah peserta tak sebanyak PKMUNJ 1. Namun, kualitas tak kalah dengan kuantitas, bukan?
Rabu (14/07) PKMUNJ 2 dimulai dengan pemaparan materi mengenai Public Relation (PR) yang dibawakan oleh Bpk. M. Yusro, salah satu dosen FT UNJ. Mengapa kita harus tau bahkan harus menguasai public relation? Terlepas dari manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan orang lain, public relation ini lebih tmembahas bagaimana suatu lembaga/instansi mebangun hubungan baik dan kepercayaan dari publik/masyarakat. Selain itu untuk membangun citra baik, tentunya.
Bicara tentang public relation, sudah pasti membutuhkan kecakapan. Pak Yusro bilang, modal ngomong sama dengan modal sukses, tapi bukan banyak omong loh ya. Kesuksesan bisa berawal dari kecakapan bicara, tapi bicara yang apa adanya, bukan mengada-ada. Dengan hal itulah kita membangun kepercayaan publik/masyarakat.
Usai pembahasan public relation, peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk melakukan focus group discussion (FGD) dengan isu-isu yang sudah ditentukan sebelumnya. Tentu saja isu yang berkembang di Indonesia belakangan ini, seperti isu Reklamasi, Tax Amnesty, Vaksin palsu dan Bom Sarinah. Hasil dari FGD ini akan dijadikan sebuah sosio drama dari masing-masing kelompok diskusi. Tentunya sosio drama ini harus mengandung empat materi yang telah didapatkan. Masih ingat kan materinya? Nih, saya ingatkan lagi; (1) Menejemen Isu dan Opini Publik, (2) Rekayasa Sosial, (3) Couter Intellijent  dan (4) Public Relation.


 Empat kelompok dengan pembahasan isu yang berbeda menghasilkan sosio drama yang cukup menghibur, namun tak mengurangi nilai yang ingin disampaikan.
Kita, pemuda yang menyandang fungsi sebagai social control, tak boleh tutup mata dan telinga akan masalah yang ada, apalagi sampai tutup hati, ckckck. Perbesarlah rasa keingintahuan lebih dalam akan masalah-masalah yang menerpa negeri ini. baca, diskusi dan tulis juga jangan terlalaikan sebagai budaya intelektual.  Karena dengan budaya itulah sebuah bangsa dapat berubah, pilihannya hanya dua; lebih baik atau lebih buruk.
Jumat (15/07) masuk dalam rangkaian PKMUNJ 2 hari kedua. Hari ini akan dihabiskan dengan pemaparan dari masing-masing kelompok mengenai hasil anjangsananya ke BEM/KEMA/KM/SENAT Universitas lain dan Kementrian yang telah ditentukan. Tujuannya tentu untuk melebarkan sayap para pemuda yang ‘katanya’ dirindukan bangsa, agar belajar dari tempat lain tentang bagaimana menjalankan sebuah organisasi, dan mengetahui masalah yang sedang melanda Indonesia dari berbagai bidang kemetrian yang dikunjungi.
Presentasi ini menghabiskan waktu cukup lama, karena memang ada 17 kelompok yang memaparkan hasil anjangsananya masing-masing.
Selanjutnya, peserta dibagi menjadi dua kelompok besar untuk melakukan diskusi terkait hasil anjangsana terhadap Unit Tata Kelola Kampus. Ternyata dari semua pemaparan, banyak sekali bagian dari unit tata kelola kampus yang tidak diketahui oleh mahasiswa, begitupun saya. Unit-unit penting yang erat hubungannya dengan kegiatan perkuliahan, sebenarnya. Bukan hanya itu, isu yang beredar dari beberapa unit pun menjadi pembahasan yang apik untuk didiskusikan. Seperti isu parkiran yang masih belum aman. Itu saja ketika parkiran masih bayar, bagaimana kini ketika parkiran telah digratiskan? Apakah keamanan bisa terjamin? Ya, masih menjadi menjadi tanda tangan besar memang. Selain parkiran, masalah ketersediaan buku diperpustakaan dan kuliah kerja nyata (KKN) juga menjadi pembahasan yang menarik pada diskusi itu.
Mungkin, hanya ini saja jejak yang dapat saya tinggalkan dari PKMUNJ 2.
#PKMUNJ2016
#PemudaYangDirindukanBangsa
#JejakKecilPesertaPKMUNJ
Nita Anggraeni (Kelompok 11)
Pendidikan Luar Biasa 2014
Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa
Universitas Negeri Jakarta 
2016

Tuesday, 21 June 2016

Jejak Pemuda yang 'Katanya' Dirindukan

           Di tengah keberkahan bulan Ramadhan, sekelompok pemuda tengah berlomba-lomba dalam kebaikan. Menyibukkan diri dengan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (PKMUNJ) 2016. Rangakaian kegiatan dimulai pada bulan Ramadhan, semoga dilimpahkan keberkahan pada kegiatan itu. Dua hari lalu telah selesai rangkaian PKMU1 yang terlaksana dalam tiga hari di tiga tempat yang berbeda. Nampaknya, panitia PKMUNJ berusaha memperkenalkan kampus-kampus jauh UNJ. Mahasiswa UNJ memang perlu tau bahwa kampus UNJ bukan hanya di Rawamangun saja, tapi juga tersebar di beberapa tempat di Jakarta seperti Kampus E Setiabudi yang dijadikan sebagai homebase Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Kampus D Halimun sebagai homebase Program studi Psikologi yang kini dalam proses atau sudah menjadi fakultas tersendiri, Kampus B Veldrome, tempatnya mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) dan Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam (FMIPA). Meski berbeda kampus namun tetap satu dalam balutan almamater hijau Universitas Negeri Jakarta.
             Setiap pelatihan biasanya di awali dengan materi dan teori, yang nantinya akan diaplikasikan dalam pelatihan yang sebenarnya. Ya, rangkaian PKMU1 ini berisi tiga materi yang dua diantaranya terasa baru untuk saya. 

           
           Rangkaian PKMU1 hari pertama (Jum'at, 17 Juni 2016) terlaksanakan di Aula Kampus E UNJ, Setiabudi, Jakarta. Materi hari pertama tengang "Menejemen Isu dan Opini Publik" yang disampaikan oleh  Bapak M. Tri Andhika Kurniawan. Seorang dosen di Universitas Bakrie dan  Expert Staff Pimpinan DPR-RI untuk bidang Hubungan Internasional dan Politik Indonesia. Materi menejemen isu pernah saya dapatkan pada pelatihan-pelatihan sebelumnya, dan pada materi ini Pak Andhika juga tidak terlalu membahas mengenai menejemn isu tapi beliau lebih mengulik tentang opini publik. Opini publik secara garis besar adalah suatu persepsi yang dipercayai oleh publik. Opini publik sendiri tak jarang ada yang mengarahkan sehingga terbentuklah sebuah opini publik yang bisa menempatkan opini menjadi dasar kebenaran. Seringkali media menjadi salah satu sumber terbentuknya opini publik. Elemen opini publik ada isu, publik, pembedaan posisi publik sebagai pro dan kontra, kemudian muncul opini hingga pelibatan aktor publik. Dengan opini publik ini sangat memungkinkan adanya kepentingan-kepentingan di baliknya. Untuk itu sebuah opini bisa saja menjadikan yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. Opini publik ini bersifat hiperealitas yang mudah membaur dalam berbagai lapisan masyarakat sehingga mudah dipercaya sebagai kebenaran yang padahal itu hanya sebuah opini yang diarahkan. Hal tersebut membuat kita sulit membedakan mata fakta dan mana rekayasa, mana fantasi dan mana realita, juga masa lalu dan masa kini.
            
             Materi kedua (Sabtu, 18 Juni 2016) terlaksana di Aula Daksinapati FIP UNJ. Pagi itu udara cukup dingin akibat guyuran hujan semalaman, namun tak menurunkan semangat para pemuda dalam menuntut ilmu melalui PKMUNJ 2016 itu. Materi kedua tentang "Rekayasa Sosial", ini saya baru denger dan baru tau, yang saya tau sebelumnya cuma rekayasa lalu lintas aja hehe. Awalnya melihat Bapak Jonru Ginting sebagai pembicara ekspektasi saya sudah meninggi, mengingat berbagai tulisannya mampu memengaruhi banyak pihak hingga jajaran pemerintahan. Sosok paruhbaya itu tampak ramah dengan seulas senyuman yang lepas dari wajahnya. Pembawaannya cukup asik meski sedikit kaku alaa orang tua, kalau menurut saya. Di awal pembicaraannya beliau mengakui bahwa sempat bingung ketika diminta mengisi materi rekayasa sosial, dan tidak tau apa itu rekayasa sosial. "sebenarnya saya tidak tau apa itu rekayasa sosial, jadi saya cari aja di internet sebagai referensi saya untuk materi ini" akunya, kurang lebih seperti itu. Sehingga materi yang beliau sampaikan tidak secara teoritis membahas arti kata 'rekayasa sosial', beliau menyimpulkan dari berbagai referensi yang dibaca bahwa rekayasa sosial adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengubah sesuatu, bisa menjadi baik atau menjadi buruk. Pak Jonru Ginting lebih membahas tentang bagaimana peran mahasiswa sebagai agen perubahan (Agent of Change). untuk menjadi seorang agen perubahan ada empat aspek yang memengaruhi, Power, Leadership, Mentality dan Morality. Power disini dapat berupa jabatan, uang, pemikiran, keahlian dll yang dapat membantu menguah sesuatu. selain itu leadership atau kepemimpinan juga harus diikutsertakan dalam diri agen perubahan karena perubahan yang dihasilkan tetap harus dikontrol dan dikatrol hingga menghidupkan jiwa-jiwa kepemimpinan yang dimiliki. setelah power dan leadership, tak lengkap bila tak ada Mentality, maksudnya adalah kemampuan dan kekuasaan yang telah dimiliki akan lebih baik jika dilengkapi dengan rasa tanggung jawab dan konsistensi. Kemudian disempurnakan dengan Morality yaitu kemampuan seseorang dalam berhubungan baik dengan orang lain. Pak Jonru juga berpesan bahwa sebuah rekayasa sosial seharusnya meninggalkan kemungkaran. 
   
                 Materi ke tiga (Minggu, 19 Juni 2016) telah dihelat di Gedung FMIPA Kampus B UNJ. Materi ketiga ini benar-benar asing di telinga dan otak saya, "Counter Intelijen". Beberapa kali saya berucap "hah?" ketika Moderator lagi dan lagi menyebutkan judul materi. Hingga berdirilah seorang Bapak yang cukup tegap dengan kemeja putih dan memperkenalkan diri sebagai Bapak Mosses Caisar Assa selaku Staff Ahli Komisi I DPR RI. Sebelum memulai pemaparan materi Bapak Mosses menyuguhkan peserta dengan cuplikan film Pearl Harbour yang menampakkan cara kerja intelijen. Counter intelijen atau kontra intelijen adalah upaya pencegahan agar pihak musuh tidak mendapatkan informasi yang dapat membahayakan keselamatan melalui penerapan siasat dan metode yang bertentang dengan pilihan musuh. Intinya disini adalah mengajarkan kita bagaimana mengantisipasi segala sesuatu. Pembahasan tentang 'intelijen' sangat menarik bagi saya, saat itu pikiran saya melayang tentang film-film hollywood yang menokohkan agen rahasia. "Apa jangan-jangan Bapak ini juga agen rahasia?" selentingan pertanyaan konyol muncul dibenak saya, hehee. Bapak Mosses juga menjelaskan bagaimana pikiran manusia dapat mengolah informasi intelijen. Pertama ada signal atau situasi yang kemudian diseleksi menjadi sebuah data, data tersebut kemudian dimaknai menjadi sebuah informasi, dan informasi yang didapat akan dijustifikasi atau disimpulkan menjadi sebuah pengetahuan. Pengetahuan itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil keputusan. Begitupun dengan kode atau sandi-sandi rahasia seperti di film-film. Menarik, sangat menarik sekali pembahasan ini bagi saya. Orang-orang yang bekerja dalam/pada/di intelijen biasanya akan mudah mengetahui hal-hal yang akan terjadi. Bukan karena peramal atau punya indera keenam, tapi karena mereka mampu membaca situasi dahulu dan saat ini untuk memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya.

            Mungkin hanya itu sepenggal jejak dari PKMU1 yang dapat saya bagikan. Seperti kata Pak Jonru Ginting, bila belum dapat melakukan hal pasti untuk sebuah perubahan maka mulailah dengan menulis untuk mengabadikan sebuah keadaan.

Nita Anggraeni
Peserta Pelatihan Kepemimpian Mahasiswa
Universitas Negeri Jakarta 2016

Thursday, 12 May 2016

Rahasia Ayah Edy: Memetakan Potensi Unggul Anak



Pertama kali mendengar nama ‘Ayah Edy’ pada sebuah diskusi, saya kebingungan, siapa ‘Ayah Edy’ hingga namanya dibawa-bawa dalam diskusi terkait pendidikan anak. Berawal dari kebingungan, hingga terjawab secara tak sengaja di pelataran masjid kampus.  Seorang kakak meminjamkan salah satu buku Ayah Edy kepada saya untuk menyelesaikan penugasan dalam kegiatan Training Education for Reformers 2016.  Kebetulan yang memang telah Allah takdirkan nampaknya :)
Nah, kali ini saya akan sedikit mengulas buku tersebut, yang berisi tentang Memetakan Potensi Unggul Anak. Ini adalah buku Ayah Edy yang pertama saya baca, the first and the one hehe.  Dari judulnya saja bisa dirasakan aura-aura parenting dalam buku ini, hehe. Iya gak sih?  Calon orang tua dan calon guru harus baca ini deh, recomended… buku ini sebenarnya lebih banyak mengisahkan tentang anak-anak yang telah Ayah Edy bimbing dalam pengembangan potensinya.
Ada salah satu kalimat dalam buku ini yang terngiang di kepala saya “Setiap orang, setiap anak, lahir  dengan membawa bibit unggulnya masing-masing.” Sayapun meyakini hal itu, bahwasannya setiap orang yang hidup memiliki kemampuan unggulnya masing-masing, yang sering disebut bakat atau potensi. Bukan tidak mungkin seorang anak memiliki lebih dari satu potensi, namun dari setiap potensi yang dimiliki pasti ada satu potensi yang paling menonjol. Ya, itulah potensi unggul. Yaitu potensi terbaik dari semua potensi yang dimiliki.
Untuk mengetahui potensi seorang anak, tentunya perlu perhatian dan pengamatan lebih dari orang tua. Sebagai orang yang selalu bersama anak di usia awal perkembangan, orang tua menjadi penentu perkembangan potensi anak. Bukan tidak mungkin potensi unggul anak akan tidak muncul karena kurang diberikan stimulasi sedari dini.
Pada buku ini Ayah Edy membagikan rahasianya dalam memetakan potensi unggul anak dengan lima langkah. Langkah pertama, Menyusun program stimulasi. Pada usia dini anak mungkin belum bisa mengungkapkan apa minatnya, untuk itu orang tua perlu memberikan stimulasi awal dengan memperkenalkan anak dengan banyak kegiatan yang  menstimulasi muculnya minat dan bakat anak. Orang tua sangat bisa menggunakan berbagai macam permainan untuk stimulasi awal seperti boneka, masak-masakan, bola, mobil-mobilan dll. Mulailah pengamatan untuk mengetahui permainan mana yang  paling anak sukai atau ia tak bosan memainkannya dalam waktu yang cukup lama. Selain itu orang tua juga dapat mengajak anak menonton film anak yang tak hanya menarik tapi juga membuka cakrawala mereka tentang berbagai jenis profesi seperti Doc McStuffins (memperkenalkan profesi dokter), Handy Manny (memperkenalkan profesi mekanik), dan masih banyak film serupa yang menarik untuk ditonton anak. Selain itu orang tua bisa juga membacakan buku cerita dengan berbagai tokoh yang menjelaskan tentang profesi,  mengajak anak mengunjungi pameran, menyaksikan berbagai pertunjukan, mengenalkan anak dengan olahraga dan masih banyak stimulasi lainnya yang dapat orang tua lakukan untuk melihat minat dan bakat anak.
Langkah kedua, membuat daftar minat dan bakat. Setelah berbagai stimulus diberikan, orang tua dapat mulai membuat daftar minat dan bakat yang telah diperlihatkan anak. Langkah ketiga, uji coba minat dan bakat. Bila anak sudah menunjukkan minat pada sebuah bidang tertentu maka tawarkanlah anak untuk menguji apakah ia memang memiliki bakat di bidang tersebut. Misalnya jika anak ingin menjadi pemain piano, tawarkan anak mengikuti les piano untuk mengetahui sebesar apa minatnya dengan piano. Idealnya percobaan ini dilakukan selama tiga bulan sampai satu tahun, dalam tempo itu biasanya anak akan menunjukkan kejenuhannya pada suatu aktivitas atau tetap menikmatinya. Jika minatnya besar, dan setelah diuji bakatnya juga kuat, serta ia sangat tekun berlatih, itu merupakan petunjuk kuat potensinya. Uji bakat ini bukan hanya melihat dimana potensi anak tapi juga melihat sejauh mana konsistensinya. 
Langkah keempat, Penajaman profesi, yang bertujuan untuk mengetahui spesifikasi minat dan bakat anak. Ketika anak suka pesawat, jangan buru-buru menyimpulakan bahwa anak ingin menjadi pilot. Karena banyak sekali profesi yang berhubungan dengan pesawat mulai dari engineering, desain, hingga entertaiment yang ada di pesawat. Salah satu cara penajaman profesi adalah dengan mengamati pertanyaan yang dilontarkan anak. Ini adalah kunci untuk bisa memilihkan sekolah yang paling tepat dan paling baik bagi anak. Langkah kelima, make a life plan. Setelah tujuan spesifiknya telah ditemukan, maka saatnya membuat rencana ke depan. Rencana yang dibuat bagaikan peta sebagai penunjuk jalan  yang harus dilalui anak untuk mencapai tujuannya. Belakangan ini sering saya temui orang-orang yang menuliskan impiannya dan ditempel di dinding kamar, sayapun begitu. Tujuannya agar selalu ingat tujuan hidup yang harus dicapai, dan saya rasakan dengan menempelkan impian kita di tempat yang dapat kita lihat setiap harinya akan memberikan semangat positif dalam menjalani hidup. Begitupun dengan anak, lagi-lagi orang tua berperan dalam membantu anak menentukan tujuan hidupnya.
Mengapa perlu dilakukan pemetaan potensi unggul? Bila berpikir jauh ke depan, tanpa pemetaan akan dilahirkan para pekerja yang unhappy, yaitu pekerja-pekerja yang tidak mencintai pekerjaannya. Yang hanya menunggu hari jumat ketika senin menyapa. Tanpa pemetaan biaya pendidikan yang dikeluarkan hanya expenses, padahal itu akan menjadi investasi bila anak menempuh pendidikan sesuai dengan potensinya. Bila berpikir dekat, tanpa pemetaan anak akan kesulitan dengan kegiatan belajarnya dan tidak menikmati masa pendidikannya. Potensi unggul yang dimiliki anak bila terus diasah akan berkembang pesat bahkan menjadi top of top. Sayangnya sistem pendidikan kita nampaknya tidak atau belum mendukung. Dalam buku ini Ayah Edy sangat menyayangkan sistem pendidikan yang masih menuntut anak menguasai berbagai bidang. Bila nilai bahasanya bagus tapi kalau matematika rendah, anak diminta untuk melakukan les matematika untuk meningkatkan kemampuan matematikanya. Padahal ketika anak dipaksa menguasai berbagai jenis bidang, otaknya akan kewalahan menerima rangsangan yang diberikan. Mungkin anak memang akan mengetahui banyak hal, tapi pengetahuannya hanya rata-rata saja, tidak menguasai secara mendalam. Beda dengan anak yang memang diasah pada satu bidang, tentu hasilnya akan lebih signifikan bahkan kemampuannya bisa mencapai world class bila benar-benar diasah. Peran orang menjadi nomor satu dalam pemetaan potensi unggul anak. Ketahuilah sedini mungkin agar kelak akan melahirkan orang-orang yang bekerja dengan hati.
Buku ini banyak menceritakan tentang kisah anak-anak dan orang tua yang sempat tersesat dalam penemuan potensi, juga berbagai pengalaman nyata yang sengaja dibagikan sebagai bahan pembelajaran untuk banyak orang yang tidak mau tersesat. Ayah Edy memasukkan berbagai pertanyaan dari orang tua dalam buku ini, yang tentunya dengan jawaban yang sangat membantu, tidak akan menyesal bila membacanya. Penulisan kalimat yang sederhana menjadikan buku ini mudah dipahami pembaca, dan sumbernya yang berdasarkan pengalaman-pengalaman nyata juga banyak memberikan gambaran bagaimana seharusnya orang tua memandang potensi unggul anak tanpa memaksakan kehendak orang tua. Yuk lah, dibaca.

Thursday, 5 May 2016

Celoteh Anak: Guru dan Kompetensinya




       Bicara tentang pendidikan tidak akan pernah ada habisnya, mulai dari pendidikan di sekolah hingga kebijakan pendidikan yang menyangkut masyarakat luas dan pemerintahan tentunya. Aku mah apalah, tak kuasa membahas pendidikan yang luas jadi cerita sedikit aja tentang pendidikan di sekolah yang benar adanya. Berangkat dari amanah TER yang harus mengulik kegiatan siswa di sekolah, ya sudah pastilah aku mengulik dari adik  pertamaku yang saat ini kelas 7 di salah satu SMP Negeri di kota Depok. Nampaknya kalau bukan karena harus mengulik, aku tak akan banyak bertanya padanya, karena malas sekali bertanya bila tidak dijawab. Adikku, seorang laki-laki usia 13 tahun, yang cuek banget, saking cueknya kadang kalau ditanya aja gak jawab. Gak tau deh karena memang dia gak denger, enggak mau denger atau memang gak peduli sama orang lain karena terlalu sibuk dengan ponsel hitamnya. Memang ya, ponsel bisa membuat yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat terasa jauh. Ah, sudahlah terlalu lama prolognya hehee.
Hal yang paling menarik aku tanyakan untuk membuka perbincangan kala itu adalah “kamu dikasih PR gak sih sama guru?” hal itu memang menjadi pertanyaanku sejak lama karena tak pernah melihatnya mengerjakan PR apalagi bertanya padaku tentang PR-PR nya. Padahal dulu ketika SD selalu memintaku membantunya mengerjakan PR. Ng, benar saja, karena daya tarik ponsel hitam miliknya dia hanya menjawab “dikasih tapi jarang” jawabnya dengan pandangan yang tak beralih dari benda hitam sepuluh cm itu. Akupun memintanya untuk menaruh benda itu sejenak untuk sekedar berbincang seputar sekolahnya. Dia meletakkannya di meja. PR yang diberikan memang tidak setiap hari tapi tidak sekalipun aku pernah melihatnya mengerjakan PR. Rupanya ia mengerjakan PR di sekolah sebelum jam belajar di mulai, ungkapnya. Alamak, aku jadi ingat akupun pernah begitu ketika sekolah dulu. Tapi itu  juga kalau aku benar-benar tidak bisa mengerjakannya sendiri. Dia bilang gak bisa ngerjainnya jadi melihat pekerjaan temannya. Tapi aku rasa, bukan karena dia tak bisa tapi ia tak mau untuk mencoba. Aku melihat perubahannya ketika masuk SMP ia menjadi lebih malas belajar dibandingkan sebelumnya. Ternyata setelah ditelaah lagi beberapa guru di sekolahnya tak ia sukai, ada yang sudah tua cuma ngoceh aja, ada yang galak marah terus, ada yang santai sampai-sampai penyampaian materi yang terlalu pelan membuat siswa tak menangkap apa yang disampaikan.
Lagi-lagi, tentang sumber daya manusianya. Masih banyak guru-guru yang kurang kreatif dalam pengajaran sehingga siswa jengah dengan metode yang itu-itu saja. Apalagi, bila hanya ceramah, tok. Padahal tak banyak siswa yang kemampuan auditorinya bagus, kebanyakan harus disempurnakan dengan visualisasi. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah kompetensi pedagogik yang menuntut guru harus dapat memahami karakteristik setiap siswanya agar strategi dan metode pembelajaran yang diberikan dapat tepat sasaran. Belum lagi, ini terjadi di sekolah baru yang memang peraturan atau tata tertib di sekolahnya belum disusun dengan baik sehingga siswa masih leluasa untuk melakukan pelanggaran. Seharusnya ketika akan membuka sebuah sekolah harus diawali dengan penyusunan tim guru yang kompeten dan peraturan yang ajeg, untuk guru dan siswa tentunya.
Dalam perbincangan ini tiba-tiba Ibuku nimbung, “sebelum belajar nyanyi Indonesia Raya dulu gak?” tanyanya. Aku malah kebingungan dengan pertanyaan mama. “kalau mau belajar iya nyanyi Indonesia raya setelah tadarusan” jawab adikku. Aku masih berpikir nyayi Indonesia Raya ketika upacara mungkin. “kalau mau pulang?” mama bertanya lagi. “loh emang harus nyanyi lagi kalau mau pulang?” tanyaku yang mulai kebingungan. Dari perbincangan ini aku baru tau kalau ada peraturan baru yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Anies Baswedan yaitu, Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam peraturan itu, diatur bentuk-bentuk kegiatan wajib maupun pembiasaan umum yang dapat dilakukan sekolah kepada peserta didik. 
Adapun beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, adalah sebagai berikut:
  • Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin dengan mengenakan seragam atau pakaian yang sesuai denganketetapan sekolah.
  • Melaksanakan upacara bendera pada pembukaan MOPDB untuk jenjang SMP, SMA/SMK.
  • Sesudah berdoa setiap memulai hari pembelajaran, guru dan peserta didik menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
  • Sebelum berdoa saat mengakhiri hari pembelajaran, guru dan peserta didik menyanyikan lagu bernuansa patriotik atau cinta tanah air, baik lagu wajib nasional, lagu daerah maupun lagu terkini
Oalah aku kudet sekali nampaknya, kurang update banget ini mah sampai-sampai peraturan menyanyi lagu Indonesia Raya sebelum memulai pelajaran di sekolah dan lagu kebangsaan setelah selesai pembelajaran di sekolah saja aku baru tahu. Menurutku peraturan ini sangat bagus untuk membimbing siswa mengenal lagu Nasional dan merapkan cinta akan  tahan airnya. Sayangnya, tidak semua guru melaksanakan peraturan tersebut, di sekolah adikku contohnya. Ketika akan memulai pelajaran mereka pasti menyanyikan lagu Indonesia Raya namun setelah pelajaran selesai terkadang ada guru-guru yang tidak mengajak siswa untuk menyanyi lagu-lagu nasional. Hanya beberapa guru saja yang patuh dan melaksanakan peraturan ini. Sisanya seperti acuh tak acuh, padahal peraturan ini adalah sarana yang tepat mengenalkan siswa pada kebudayaan nasional. Mungkin nantinya perlu diadakan sosialisasi mengenai hal ini kepada pada guru agar dapat menanamkan karakter positif dan budi pekerti kepada siswa.
            Guru, adalah orang yang menentukan kemajuan suatu Negara. Ketika tenaga pengajarnya memiliki kompetensi dan kualifikasi yang baik serta bervisi untuk mencapai tujuan pendidikan secara luas maka bisa dipastikan bahwa Negara itu akan menjadi Negara yang maju sumberdaya manusia dan teknologinya.
                                                                                                                        Nita Anggraeni
                                                                                                For TER 2016

Tuesday, 23 February 2016

Maafkan Aku, Sahabatku



Nampaknya aku sangat melankolik malam ini. Perasaan yang tertahan seminggu ini, akhirnya buncah juga. Lagi-lagi di hadapan kalian, sahabatku. Sampai ku dengar di balik punggunggku, salah satu dari kalian bertanya  “Nita kenapa lagi?” suara Alvyn itu. Wajar, memang, pertanyaan itu muncul. Karena ini sudah kesekian kalinya aku menangis di hadapan kalian, sahabatku. Aku memang bukan orang yang dapat menahan air mata terlalu lama di kelopak mata. Kan, sudah ku bilang tadi, “aku gak bisa menunggu lebih lama lagi”. Bukan karena aku malas menunggu, ataupun aku benci menunggu, bukan. Melainkan, karena aku sudah menduga bahwa sebentar lagi bendungan air mataku ini akan meluap. 

Ah, aku sudah tak kuat. Aku sudah bilang aku ingin pulang saja. Bukan karena tak ingin bersama dan bersua dengan kalian, bukan. Tapi karena aku tau, aku akan menangis. Aku tak mau menangis di hadapan kalian lagi, tadinya. Tapi, kalian yang mencegahku untuk pulang, memintaku untuk tetap menunggu. Hingga aku tak kuat. Salah satu dari kalian memegangiku ketika aku mulai melangkah pergi. Tak kuat, benar-benar tak kuat. Saat itu dinding aula Daksin seperti memintaku menghampirinya. Wajahku langsung menyentuhnya, dan terbenam di hadapannya. Bendungan air mata itu sudah benar-benar rapuh. Tumpahlah ia, mengalir sederas-derasnya. Fitri yang dari tadi memegangiku, kurasakan tangannya menggenggam pundakku dengan erat dan merangkulku. Ah, aku semakin tersedu dibuatnya. Lima menit sudah aku terpaku dibenamkan dinding aula Daksin itu. Perlahan ku dengar banyak langkah kaki yang menghampiri, untuk sekedar bertanya “kenapa?”. Saat itu pula, dua orang laki-laki menyanyi diiringi gitar tepat di belakangku. Alvyn dan Fauzi. Suara mereka cukup menenangkanku, meskipun ku tau mereka memepersiapkan lagu itu, sebetulnya, bukan untukku. 

Ketika itu juga seseorang yang sejak tadi merangkulku berkata “Fitri ada kok, gak kemana-mana. Kan Nita yang bilang Nita juga ada gak kemana-mana”. Perempuan tangguh ini tau saja perasaanku. “Maafin Fitri gak bisa memahami Nita” lanjutnya. Seketika tangisku semakin tersedu saja mendengar ucapannya itu. Aku baru tersadar, selama ini aku terlalu egois. Keegoisanku yang membuatku ingin selalu dipahami oleh kalian, keegoisanku yang membuatku selalu ingin dimanja oleh kalian, keegoisanku yang membuatku selalu ingin kalian ada untukku. Padahal, aku sendiri tidak bisa memberikan perhatian lebih pada kalian. Padahal, aku tidak bisa memberikan waktuku lebih untuk kalian. Padahal, aku tidak bisa memahami kalian. Aku egois, sungguh. Egois sekali aku ini. 

Tangisku semakin pecah saja. Satu persatu, kalian menghiburku. Kapus, Septi.  Mencoba meredamkan tangisku. Namun, aku tetap saja terpaku dalam tangis. Aku memang bukan orang yang mudah menghentikan tangis. Semakin ditanya, aku semakin kuat saja menangis. Pantas, saat kecil dulu aku dipanggil “si cengeng” oleh saudara-saudaraku. Ternyata julukkan itu memang tepat. 


Dengan keadaanku yang sudah begini, kalian masih memintaku untuk menunggu. Alih-alih akan ada sesuatu katanya. Digiringlah aku naik ke lantai tiga Daksin. Kapus yang duduk di sampingku, menyentuh telapak tanganku dan berkata “Nita tau gak, aku sedih kalo liat kamu nangis?” ungkapnya dengan suara lembut itu. Aku hanya terdiam dan menggelengkan kepala. “Nita tau gak, aku khawatir kalo liat kamu nangis?” lanjutnya. Aku tetap menggeleng. Aku tak tau, Kapus. Yang ku lihat dirimu selalu dalam keadaan bahagia, menghadapi berbagai masalah dengan celotehmu yang membuat semua menjadi ringan. Maaf, bila tak bisa membaca hatimu. Lagi-lagi, aku masih diminta untuk menunggu. Septi, perempuan riang itu mencoba menghiburku. “Nita nangis gara-gara aku kan?” ungkapnya sambil memandangku dengan cengiran khasnya. “iya nih, gara-gara septi” jawabku asal, yang mencoba menghentikan tangis. Tapi apa daya semakin ditanya, semakin berkata, semakin menjadilah tangisku. Aku terdiam sejenak. “aku udah gak kuat, aku pulang aja ya” kataku yang langsung berdiri. “Loh, Nita gak mau nunggu sebentar lagi?” Tanya Septi yang terlihat agak bingung. Aku menjulurkan tanganku padanya untuk bersalaman, saat itu juga air mata menetes kembali. “aku gak kuat, aku sayang kalian” ungkapku. Seketika, wajah ceria di hadapanku itu menjadi sendu, dan airmatanya menetes begitu saja. Aku telah menularkan tangis padanya. Maaf. Kami berpeluk erat untuk beberapa saat. “jangan nangis, biar aku aja yang nangis” kataku. Terlihat kan keegoisanku, lagi. Melarangnya menangis, padahal aku yang membuatnya menangis. Aku lepaskan pelukan itu dan melangkah pergi. “Assalamu’alaikum” ucapku, meninggalkannya yang tengah terpaku. 

Maafkan aku yang selalu merepotkan kalian, sahabatku. Mungkin tangisku ini membuat kalian bingung, mengapa tiba-tiba pecah begitu saja. Sebetulnya tangis ini adalah luapan perasaan dan pikiranku selama satu minggu kemarin. Ketika perkuliahan semester 104 ini baru saja dimulai, aku melihat kalian sudah bolak-balik kesana-kemari untuk melaksanakan amanah dan berbagai kebaikan. Sedang aku, hanya bisa melihat kalian yang sibuk. Karena, aku mencoba menghindar dari kesibukan itu. Minggu pertama semester ini aku rasakan sangat berbeda dengan semester-semester sebelumnya. Dulu, usai perkuliahan, pasti ada saja agenda yang menunggu, bersama kalian tentunya. Kini, aku bisa melenggang pulang tanpa melalaikan agenda-agenda seperti dulu. Dulu, aku selalu pulang usai sholat maghrib, ketika langit sudah gelap dan bintang-bintang mulai terlihat. Kini, matahari masih bersinar terang, usai sholat ashar aku sudah melenggang pulang. Di setiap perjalanan pulang itu, selama empat hari di minggu lalu, aku selalu teringat kalian. Pasti akan jarang kita berkumpul dan berdiskusi seperti sebelumnya. Apalagi ketika ku lihat matahari masih bersinar di ufuk barat langit Jakarta, dan aku sudah berada di dalam bis kota. Semakin terasa saja bedanya. 

Maafkan aku bila tadi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku benar-benar tak kuat. Aku takut tangisku semakin menjadi saja. Maaf bila membuat kalian bingung dengan tingkahku. Bila kalian marah padaku, aku tak apa. Karena aku memang pantas dimarahi karena keegoisanku ini. Maafkan aku, sahabatku.